RSS
Write some words about you and your blog here

Rainbow after the Rain

Masih tergambar jelas dalam ingatannya bagaimana wajah polos Aliya memandangnya pertama kali saat ia memutuskan untuk duduk disebelah gadis manis itu. Ivan tersenyum, membayangkan Aliya tersenyum dan bengong menatap balik wajahnya. Mungkin hal itu tak pernah terulang lagi setelah Aliya sadar akan kebodohannya itu. Sejak saat itu tak pernah lagi Aliya memperhatikan wajah Ivan. Bahkan baru Ivan sadari saat mereka bicara, jarang sekali Aliya menatapnya langsung, ia lebih senang mengalihkan pandangannya ke arah lain atau berbicara sambil melakukan sesuatu, sehingga tak perlu menatap langsung wajah lawan bicaranya. 

Deru motor yang memekakan telinga baru saja membuyarkan lamunannya. Siapa oknum yang telah merusak lamunannya itu, penasaran Ivan berdiri, berjalan menuju jendela kamarnya. Dari balik horden putih berenda yang menutupi jendela kamarnya terlihat sebuah motor bebek berhenti persis diseberang rumahnya, yang tak lain adalah rumah pak Hamid si kepala RT. Pengemudi motor tersebut masih duduk diatas motornya, tapi ia tidak sendiri, ia memboncengi seorang gadis yang tak terlihat jelas wajahnya karena masih mengenakan helm.  

Perlahan Ivan menyingkap horden putih agar bisa lebih leluasa melihat siapa tamu yang datang mengunjungi rumah pak Hamid. Tak lama Pak Hamid keluar mengenakan sarung kotak-kotak berwarna kecoklatan, dipadukan dengan baju koko putih yang warnanya sudah menguning, dan peci hitam. Nampak pak Hamid sedang mempersilahkan kedua tamunya itu masuk dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi palsunya. Masih dihantui rasa penasaran siapakah dua orang tersebut, Ivan kembali membuka lebar hordennya, kali ini ia menempelkan wajahnya pada kaca jendela rapat-rapat dan baru berhenti ketika pak Hamid menyadari tindakannya itu. Dengan satu  pelototan penuh arti yang bermakna jangan suka mencampuri urusan orang lain. Ivan segera menutup kembali hordennya dan beranjak dari situ. 

Masih berdiri dikamarnya Ivan berusaha keras mengingat siapa perempuan tersebut, rasanya perempuan berambut panjang tadi tak asing baginya. Tapi siapa.... ia mencoba menerka-nerka, apa mungkin?? perempuan itu......Aliya, teman masa lalunya, sudah 8 tahun mereka tak bertemu, tapi untuk apa Aliya ke rumah pak Hamid dan...siapa laki-laki itu, laki-laki yang membocenginya tadi.   

Hujan perlahan turun...semakin lama semakin deras, tatapan Ivan menerawang jauh keluar jendela. Kabut putih mulai menutupi keleluasaannya untuk melihat. Dalam hati ia berseru, 'akan selalu ada akhir dari setiap awalan, akan selalu ada perpisahan dari setiap pertemuan, akan selalu ada suka dari setiap duka, namun akan kah selalu ada pelangi setelah hujan?'

  


0 komentar:

Posting Komentar